Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 21 Oktober 2014

Kekuatan Maaf Nabi Muhammad SAW

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢ

ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃُﺳْﻮَﺓٌ ﺣَﺴَﻨَﺔٌ ﻟِﻤَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮْﺟُﻮ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍﻵﺧِﺮَ ﻭَﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺜِﻴﺮًI
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”[QS. Al-Ahzaab:21]
Maha Suci Allah yang telah mengutus Kanjeng Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan yang sempurna,di mana akhlak beliau adalah sebagus bagus akhlak manusia,dan itu beliau tunjukkan dalam perjalanan hidup beliau yang tetap memaafkan walaupun mendapatkan halangan rintangan dan siksaan dari kaum musyrikin.Akhlak beliau yang terpuji telah menghancurkan hati keras ummat yang dahulu dalam keadaan jahil menjadi hati yang penuh cinta dan keimanan.
Pernah seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal
dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan
tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi
wa sallam. Segala persiapan telah matang,
persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun
sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah
tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia
mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya
untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala
Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang
melihat gelagat buruk pada penampilannya
menghadang.
Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke
Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik?”
Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab,
“Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh
Muhammad!”.
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar
langsung memberangusnya. Tsumamah tak
sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak
mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil
merampas senjatanya dan mengikat tangannya
kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat
Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera
melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.
Rasulullah segera keluar menemui orang yang
bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat
pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah
baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya,
“Apakah ada di antara kalian yang sudah
memberinya makan?”.
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja
kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak
tadi menunggu perintah Rasulullah untuk
membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan
apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar
memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang
anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang
ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk
Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan
sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan
segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat
orang itu”.
Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah
Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah,
Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya,
“Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain
Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus,
“Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah
membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada
ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.”
Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada
keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”
Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu
saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu
untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan
dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik
itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke
negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid,
dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah
ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku
bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad
Rasul Allah.”
Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa
engkau tidak mengucapkannya ketika aku
memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab,
“Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum
kau bebaskan karena khawatir ada yang
menganggap aku masuk Islam karena takut
kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku
masuk Islam semata-mata karena mengharap
keredhaan Allah Robbul Alamin.”
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal
berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada
yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah
aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di
muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad
Rasulullah.”
Sahabat………..
Apakah kita pengikut ajaran beliau?
Tetapi sejauh mana kita bisa memaafkan kesalahan
orang? Seberapa besar kita mencintai sesama?
kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar
kita yang pernah kita ucapkan sebagai tanda kita
pengikut beliau…
Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna
sebagai seorang manusia biasa. beliau adalah Nabi
terbesar, beliau juga adalah Suami yang sempurna,
Bapak yang sempurna, pimpinan yang sempurna,
teman dan sahabat yang sempurna, tetangga yang
sempurna. maka tidak salah kalau Allah
mengatakan bahwa Beliau adalah teladan yang
sempurna.
Semoga Allah memampukan kita untuk selalu meneladani Akhlak Rasulullah Muhammad SAW....Aamiin

0 komentar:

Posting Komentar