Sejumput surga yang jatuh ke bumi begitulah aku memanggil tempat itu.mahakarya tuhan yang begitu indah itu berada di ketinggian 2.400 mdpl,di situlah aku menuggu pagi dan menikmati ribuan cahaya yang menggantung menghiasi langit.
Di malam itu langit terasa lebih dekat,mataku tak bisa ku alihkan dari memandangi angkasa seakan sedang memandangi wajah kekasih yang ayu,langit malam itu sudah menghilangkan segala penatku setelah enam jam berjalan menuju ranu kombolo si surga yang terjatuh, 3 derajat celcius tak mampu mendekapku dan membuatku beranjak ke dalam tenda.alangkah bertambah indahnya malam itu bila di habiskan bersama yang terkasih,bersama menatap luasnya langit yang terbentang di penuhi ribuan cahaya cahaya redup yang menghangatkan hati tersa sekali susana romantik di tempat itu walau ku habiskan malam itu sendiri dan kunikmati sepi itu dengan hati yang lebih dekat dengan alam yang biasanya terabaikan dengan Tuhan yang sering aku lupakan.
Kupandangi langit yang biasanya hanya berwana hitam tetapi di situ tidak hanya hitam dan aku takjub tak bisa menjelaskannya.di sana kudapatkan bintang jatuh,ursa mayor,ursa minor,crux dan bima sakti begitu dekat .terasa tak ada yang sia sia dari perjalanan ini segala kebosananku hilang,seketika aku sadari bahwa diriku ini tak lebih besar dari sebutir debu di hadapan mahakarya Nya yang indah.andaikan tuhan memberikan aku kesempatan lagi untuk mengunjungi sejumput surga yang jatuh itu maka dengan syukur dan senang hati ku langkahkan kakiku ke sana.
Malam berlalu begitu cepat saat itu hingga aku sadari sesuatu yang aku tunggu telah datang,terbitnya sang surya yang mengusir dinginnya malam.


0 komentar:
Posting Komentar